Sabtu, 01 Juni 2013

Persebaran Islam di Indonesia



Persebaran Islam di Indonesia

1.                Penyebaran Islam (1200-1600)
Indonesia adalah Negara kepulauan di Asia Tenggara, merdeka sejak 17 Agustus 1945. Penduduknya berjumlah 193 juta jiwa (1990), dengan sekitar 88% penduduk menganut agama islam. Dengan demikian penduduk muslim Indonesia merupakan yang terbesar di dunia.
Proses Islamisasi
Sejak abad ke-7 diduga para musafir dan pedagang muslim dari arab, Persia, dan India (Gujarat) telah memperkenalkan islam di Nusantara. Hal ini dimungkinkan karena sejak abad ke-5, Samudera Hindia telah menjadi kawasan yang berbahasa Arab.
Agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 M. Pendapat  ini didasarkan pada munculnya kerajaan Samudra Pasai yang bercorak Islam, pada abad ke 13 M.
·                    Sumber masuknya Agama Islam ke Indonesia di dapat dari :
Catatan sejarah kerajaan cina masa Dinasti Tang, Catatan Chou ku-Fei (1178 M) terdapatnya dua tempat yang menjadi komunitas orang-orang Ta-shih (Arab), Berita Jepang (784) Pendeta Kansshim menemukan kapal-kapal posse dan Ta-sih K-uo, Marco Polo (1292) catatan ini mengenai perjalanannya ke Sumatra, dan Berita Ibn Batutah yang mengatakan bahwa Islam ada di Indonesia sejak abad ke-13 M.
·                    Sebagian ahli berpendapat bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia tidak secara langsung melihatkan bangsa Arab. Menurut Snouck Hurgronje, Islam dibawa ke Indonesia oleh para pedagang Islam dari Gujarat (India)
Di abad 13 Masehi berdirilah kerajaan-kerajaan Islam diberbagai penjuru Nusantara, yang merupakan moment kebangkitan kekuatan politik umat khususnya didaerah Jawa ketika kerajaan Majapahit berangsur-angsur turun kewibawaannya karena konflik internal. Hal ini dimanfaatkan oleh Sunan Kalijaga yang membina di wilayah tersebut bersama Raden Fatah yang merupaka keturunan raja-raja Majapahit untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa yaitu kerajaan Demak. Bersamaan dengan itu mulai bermunculan pula kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya, walaupun masih bersifat lokal.
Pada abad 13 Masehi ada fenoma yang disebut dengan Wali Songo yaitu ulama-ulama yang menyebarkan dakwah di Indonesia. Siapa saja Wali Songo itu : Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Drajat, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Giri, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga.
Wali Songo mengembangkan dakwah atau melakukan proses Islamisasinya melalui saluran-saluran:
·           Perdagangan : Pada masa itu, pada abad ke-7 hinggan ke-16 pedagang muslim yang berdagang ke Indonesia semakin bnyak sehingga akhirnya membentuk pemukiman yang disebut pekojan. Dari tepat ini mereka berinteraksi dengan masyarakat asli sambil menyebarkan agama islam.
·           Perkawinan : Para pedagang Islam banyak yang menikah dengan wanita pribumi. Sebelum perkawinan berlangsung, wanita-wanita pribumi yang belum beragama Islam diminta mengucapkan syahadat sebagai tanda menerima Islam sebagai agamanya.
·           Pendidikan : Penyebaran Islam melalui pendidikan dilakukan melalui pesantren-pesantren, khususnya oleh para kiai. Disamping mengajar di pesantren-pesantren, para kiai juga seringkali menjadi penasihat para raja atau bangsawan.
·           Tasawuf : Tasawuf adalah ajaran atau cara untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Ajaran tasawuf ini banyak dijumpai dalam cerita-cerita babad dan hikayat masyarakat setempat.
·           Kesenian : Saluran penyebaran agama islam di Indonesia terlihat pula dalam kesenian Islam, seperti peninggalan seni bangunan, seni pahat, seni musik, dan seni sastra.Hasil-hasil seni tersebut dapat dilihat pada mesjid-mesjid kuno di Demak, Cirebon, Banten, dan Aceh.
Para ahli berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui 2 jalur, yaitu: Jalur Utara = Damaskus - Baghdad - Gujarat - Srilanka – Indonesia, dan Jalur Selatan = Yaman - Gujarat - Srilanka - Indonesia
2.                Persebaran Islam Pada Masa Kolonial
Pada abad ke-17 masehi atau tahun 1601 kerajaan Hindia Belanda datang ke Nusantara untuk berdagang, namun pada perkembangan selanjutnya mereka menjajah daerah ini. Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya yaitu VOC, sejak itu hampir seluruh wilayah Nusantara dikuasainya kecuali Aceh. Saat itu antara kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.
Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek kehidupan tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh para ulama saat itu. Ketika penjajahan datang, para ulama mengubah pesantren menjadi markas perjuangan, para santri (peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah, sedangkan ulamanya menjadi panglima perang. Potensi-potensi tumbuh dan berkembang di abad ke-13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaan Islam yang syair-syairnya berisi seruan perjuangan. Para ulama menggelorakan jihad melawan penjajah Belanda. Belanda mengalami kewalahan yang akhirnya menggunakan strategi-strategi:
·                     Politik devide et impera
·                     Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar, seorang Guru Besar ke-Indonesiaan di Universitas Hindia Belanda, yang juga seorang orientalis yang pernah mempelajari Islam di Mekkah.
Di akhir abad ke-19, muncul ideologi pembaruan Islam yang diserukan oleh Jamal-al-Din Afghani dan Muhammad Abduh. Ulama-ulama Minangkabau yang belajar di Kairo, Mesir banyak berperan dalam menyebarkan ide-ide tersebut, di antara mereka ialah Muhammad Djamil Djambek dan Abdul Karim Amrullah. Pembaruan Islam yang tumbuh begitu pesat didukung dengan berdirinya sekolah-sekolah pembaruan seperti Adabiah (1909), Diniyah Putri (1911), dan Sumatera Thawalib (1915). Pada tahun 1906, Tahir bin Jalaluddin menerbitkan koran pembaruan al-Iman di Singapura dan lima tahun kemudian, di Padang terbit koran dwi-mingguan al-Munir.
3.                Kebangkitan Perkembangan Islam Abad ke – 20
Awal abad 20 masehi, penjajah Belanda mulai melakukan politik etik atau politik balas budi. Politik balas budi memberikan pendidikan dan pekerjaan kepada bangsa Indonesia khususnya umat Islam tetapi sebenarnya tujuannya untuk mensosialkan ilmu-ilmu barat yang jauh dari Al-Qur’an dan hadist dan akan dijadikannya boneka-boneka penjajah. Di Indonesia tidak seluruh masyarakat mendapat pendidikan, melainkan hanya golongan Priyayi (bangsawan), karena itu yang menjadi pemimpin-pemimpin pergerakan adalah orang-orang yang berasal dari golongan bangsawan.
Strategi perlawanan terhadap penjajah pada masa ini lebih kepada bersifat organisasi formal dari pada dengan senjata. Berdirilah organisasi Serikat Islam merupakan organisasi pergerakan nasional yang pertama di Indonesia pada tahun 1905 yang mempunyai anggota dari kaum rakyat jelata sampai priyayi dan meliputi wilayah yang luas. Tahun 1908 berdirilah Budi Utomo yang bersifat masih bersifat kedaerahan yaitu Jawa, karena itu Serikat Islam dapat disebut organisasi pergerakan Nasional pertama dari pada Budi Utomo.
Tokoh Serikat Islam yang terkenal yaitu HOS Tjokroaminoto yang memimpin organisasi tersebut pada usia 25 tahun, seorang kaum priyayi yang karena memegang teguh Islam maka diusir sehingga hanya menjadi rakyat biasa. Ia bekerja sebagai buruh pabrik gula. Ia adalah seorang inspirator utama bagi pergerakan Nasional di Indonesia. Serikat Islam di bawah pimpinannya menjadi suatu kekuatan yang diperhitungkan Belanda. Tokoh-tokoh Serikat Islam lainnya ialah H. Agus Salim dan Abdul Muis, yang membina para pemuda yang tergabung dalam Young Islamitend Bound yang bersifat nasional, yang berkembang sampai pada sumpah pemuda tahun 1928.
Dakwah Islam di Indonesia terus berkembang dalam institusi-institusi seperti lahirnya Nadhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. Lembaga-lembaga ke-Islaman tersebut tergabung dalam MIAI (Majelis Islam ‘Ala Indonesia) yang kemudian berubah namanya menjadi MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) yang anggotanya adalah para pimpinan institusi-institusi ke-Islaman tersebut.

Problem Persebaran

1.                  Para Wali harus terlebih dahulu meyakinkan Para Raja dari setiap daerah sebelum menyebarkan agama Islam di daerah tersebut.
Hal ini dibuktikan dengan :
  Menurut buku Babad Diponegoro yang dikutip Ruslan Abdulgani dikabarkan bahwa Prabu Kertawijaya penguasa terakhir kerajaan Mojo Pahit, setelah mendengar penjelasan Sunan Ampel dan sunan Giri bahwa maksud agama islam dan agama Budha itu sama hanya cara beribadahnya saja yang berbeda,  akhirnya Raja Kertawijaya tidak melarang rakyatnya untuk memeluk agama baru itu (agama islam), asalkan dilakukan dengan kesadaran, keyakinan, dan tanpa paksaan atau pun kekerasan
2.                  Sulitnya masyarakat menghilangkan kebudayaan Hindu dan Budha yang ada pada saat itu.
Hal ini dibuktikan dengan:
Adanya kelonggaran yang diberikan oleh Wali Songo di Jawa terhadap pelaksanaan budaya-budaya dan adat istiadat Hindu-Buddha yang biasa mereka lakukan.
3.                  Persebaran Islam terhambat pada massa Penjajahan Belanda.
Hal ini dibuktikan dengan:
a.         Ketika  Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya yakni  VOC, hampir seluruh wilayah nusantara dijajah oleh Hindia Belanda kecuali Aceh. Sementara saat itu antar kerajaan-kerajaan Islam di nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.
b.         Penggunaan strategi-strategi Belanda sebagai berikut:
·           Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu domba antara kekuatan Ulama dengan adat contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang Diponegoro di Jawa.
·           Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar seorang Guru Besar keIndonesiaan di Universitas Hindia Belanda juga seorang orientalis yang pernah mempelajari Islam di Mekkah, dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai melakukan politik praktis. Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah satunya adalah pembatasan terhadap kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji karena pada saat itulah terjadi pematangan pejuangan terhadap penjajahan.






  
Daftar Pusataka

Ensiklopedi Islam Jilid 2
Sejarah Kebudayaan Islam Kelas 2 SMA, Madrasah Aliyah
http://www.scribd.com/doc/43889448/Masuknya-Islam-Ke-Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar